Dari Bandar Lampung ke Berbagai Daerah: Kisah Leo Perdana Membesarkan Slash CCTV
Leo Perdana, pengusaha muda sekaligus member Tangan Di Atas (TDA) Lampung, yang membangun bisnisnya dari layanan pemasangan kamera pengawas hingga menjadi penyedia solusi keamanan terintegrasi dengan cabang di berbagai daerah.
Liputan Khusus TDA Lampung — Profil Member
BANDAR LAMPUNG — Di tengah pasar keamanan digital Lampung yang kian ramai, satu nama terus melebarkan jejaknya: Slash CCTV, bendera usaha milik PT Slash Teknologi Indonesia. Di balik kemudinya ada Leo Perdana, pengusaha muda sekaligus member Tangan Di Atas (TDA) Lampung yang pernah dipercaya sebagai Ketua TDA Bandar Lampung periode 8.0. Ia membangun bisnisnya dari layanan pemasangan kamera pengawas hingga menjadi penyedia solusi keamanan terintegrasi dengan cabang di berbagai daerah.
Berawal dari Satu Layanan, Tumbuh Jadi Solusi Keamanan
Slash CCTV kini bukan sekadar toko kamera. Perusahaan ini melayani pemasangan dan servis CCTV, access control, sistem alarm, fingerprint, jaringan, hingga sound system — sebuah portofolio yang menempatkannya sebagai penyedia solusi keamanan menyeluruh, bukan penjual perangkat semata.
Dari sisi produk, Slash CCTV membawa deretan merek besar sekaligus: Hikvision, Dahua, Imou, HiLook, Ezviz, TP-Link VIGI, hingga HiView. Keluasan pilihan brand ini menjadi salah satu kekuatan yang membedakannya dari banyak pemain lokal yang biasanya hanya mengandalkan satu atau dua merek.
"Dengan modal 500.000 menjadi frelance teknisi CCTV door to door hingga membangun jaringan bisnis yang berkelanjutan" — ujar : Leo Perdana, Direktur PT Slash Teknologi Indonesia
Ekspansi ke Berbagai Daerah
Yang membuat langkah Leo menarik adalah keberaniannya membuka cabang di luar pusat kota. Selain kantor di Bandar Lampung, Slash CCTV hadir di Metro dan menjangkau wilayah Tulang Bawang dan Bandar Jaya. Cabang Slash CCTV Metro, misalnya, telah membangun reputasi baik dengan penilaian pelanggan yang solid di platform peta digital.
Strategi ekspansi ke kota sekunder ini sejalan dengan peta persaingan pasar CCTV Lampung: mayoritas pemain menumpuk di Bandar Lampung, khususnya di koridor Jalan Gajah Mada dan kawasan Tanjungkarang Timur. Dengan merambah Metro dan Tulang Bawang, Bandar Jaya Lampung Tengah Slash CCTV menjangkau pasar yang belum terlalu padat pemain.
"Bagi saya bisnis bukan hanya untung rugi tetapi kebermanfaatan untuk lingkungan"
Membaca Pasar: Bukan Perang Harga, Tapi Kepercayaan
Pasar CCTV Lampung punya karakter khas. Hampir semua pemain memiliki rating pelanggan tinggi, di kisaran 4,8 hingga 5,0. Artinya, kualitas layanan sudah menjadi standar umum — dan pembeda sesungguhnya bergeser ke kepercayaan serta bukti sosial dari pelanggan.
Di sinilah Leo melihat peluang. Alih-alih terjebak dalam perang harga, ia menekankan konsultasi kebutuhan, garansi, dan layanan purnajual. Untuk gambaran pasar, paket CCTV yang paling diminati di Lampung adalah paket 4 kamera dengan kisaran harga Rp2,5 juta–Rp5 juta, sudah termasuk perangkat perekam, penyimpanan, kabel, dan jasa pemasangan.
"Saya yakin lampung mempunyai potensi market yang sangat luas, maka dari itu kita kembangkan bisnis ini agar memiliki dampak positif, ujar Leo Perdana"
Nilai TDA dalam Perjalanan Bisnis
Sebagai member TDA Lampung, Leo Perdana menempatkan komunitas sebagai bagian dari pertumbuhannya. Semangat berbagi ilmu, kolaborasi antar-pengusaha, dan mentalitas "tangan di atas" menjadi bahan bakar yang ia bawa dalam membangun tim dan jaringan cabang.
"Bagi saya TDA bukan hanya komunitas, melaikan rumah tumbuh bersama, tempat berlajar bersama dan sudah seperti keluarga sendiri."
Melangkah ke Depan
Dengan fondasi produk yang lengkap, jaringan cabang yang meluas, dan pasar keamanan yang terus tumbuh seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan keamanan rumah dan usaha, Slash CCTV berada di posisi yang menjanjikan. Bagi Leo Perdana, perjalanan tampaknya masih panjang — dan komunitas TDA Lampung akan terus menyaksikan ke mana pengusaha muda ini melangkah.